Mendengar permintaan Lala dan mengenal sifatnya yang keras kepala, Lynx hanya bisa menghela napas panjang. Ia menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh.

"Baiklah," katanya, suaranya datar tapi tegas. "Aku akan membawamu, jadi bertahanlah. Tutup matamu dan jangan coba-coba membuka!"

Namun sebelum Lala sempat mengeluarkan protes, tubuhnya sudah terangkat ke udara. Dalam satu gerakan cepat, Lynx melemparkannya ke punggungnya seperti membawa sekarung beras.

"Hei! Setidaknya beri aku waktu bersiap—"

WHOOSH!

Dunia seketika berubah menjadi bayangan yang melesat cepat. Angin menderu seperti badai. Tanah di bawah mereka hanya terlihat sebagai garis-garis samar yang berkelebat. Setiap langkah Lynx menembus ratusan meter, melewati lembah yang curam, hutan belantara, dan sungai yang berkilauan dalam sekejap mata.

Jarak ratusan kilometer ditempuh dalam hitungan detik.

Namun, di tengah larinya yang tak tertandingi, Lynx tiba-tiba merasa ada sesuatu yang mengganggu fokusnya. Sudah lama ia tidak bersentuhan dengan Leena, dan kini, saat membawa Lala di punggungnya, ia merasakan sesuatu yang lembut dan padat menekan punggungnya. Sensasi itu—

BRAK!

"Guh!" Lynx menabrak dahan pohon yang besar. Dahan itu langsung patah dan terhempas oleh kekuatan serta kecepatan larinya.

"Aaaah! Lynx, hentikan! Stop! BERHENTI!!" teriak Lala, suaranya nyaris tenggelam oleh gemuruh angin.

Lynx akhirnya berhenti mendadak. Lala hampir terlempar ke depan, tetapi untungnya, ia masih sempat mencengkeram bahunya dengan erat.

Begitu kakinya menyentuh tanah, Lala langsung berjongkok dengan wajah pucat pasi. Tangannya bergetar, memegangi perutnya dengan ekspresi menderita. Meskipun Lynx sudah melapisi tubuhnya dengan energi pelindung, tetap saja, pengalaman melihat dunia melesat seperti kilat memberikan tekanan luar biasa pada pikirannya.

"Aku… tidak akan pernah… meminta itu lagi," katanya dengan suara lemah, napasnya terengah-engah.

Lynx hanya tertawa kecil. "Sudah kubilang, bukan?"

Setelah memastikan Lala baik-baik saja, ia mengalihkan perhatiannya ke lingkungan sekitar. Matanya yang tajam menyapu sekeliling, memastikan bahwa tidak ada ancaman tersembunyi. Saat ia yakin tempat itu aman, ia mengangkat satu tangan dan mulai menggambar simbol di udara.

Dalam sekejap, energi ruang berputar, membentuk lingkaran bercahaya yang berdenyut lembut di udara.

Lala, meski masih setengah syok, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Eh… ini portal teleportasi? Aku lupa kalau kau bisa melakukan ini…" Matanya membulat, lalu ia menatap Lynx dengan ekspresi penuh tuntutan. "Kalau bisa begini, kenapa tadi kita harus berlari? Kita bisa langsung sampai dalam sekejap!"

Lynx menatapnya sekilas, lalu berkata dengan nada santai, "Aku tidak ingin membuat kehebohan dengan menunjukkan kemampuanku jika tidak mendesak. Ingat, hanya tingkat immortal dan menguasai formasi tingkat tinggi saja yang dapat membuat portal teleportasi ini."

Lynx tertawa geli. "Bayangkan jika di tempat tujuan ternyata ada orang disana dan melihatku. Apa reaksi mereka melihat forging qi tingkat dua membuat sebuah portal? Itu sebabnya yang aku tidak pernah menggunakan teleportasi ataupun terbang selama disini. Aku tidak ingin mendapat masalah baru jika ada yang melihatnya. Apalagi di depan Tuan Zhen. Meski bagaimanapun, aku belum terlalu mengenalnya"

Lala mengangguk pelan. "…Baiklah, itu masuk akal. Tapi tetap saja, aku lebih memilih teleportasi daripada naik roller coaster seperti tadi."

Lynx tertawa kecil, lalu melangkah ke dalam portal. "Ayo, kita tidak punya waktu."

Lala menghela napas, lalu mengikuti Lynx memasuki cahaya itu. Dalam sekejap, keduanya menghilang dari tempat itu dan muncul dihutan di dekat lokasi Sekte Api Langit.

Saat Lynx dan Lala tiba di depan gerbang utama Sekte Api Langit, pemandangan yang mereka lihat sungguh berbeda dari sebelumnya. Puluhan, bahkan ratusan orang berkumpul di luar sekte, wajah mereka dipenuhi duka dan kebingungan. Mereka datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ketua sekte yang telah wafat secara tragis. Beberapa dari mereka adalah murid sekte yang telah lama pergi dan baru kembali setelah mendengar kabar duka, sementara yang lain adalah perwakilan dari sekte lain, pedagang, atau bahkan rakyat biasa yang ingin memberikan penghormatan.

Namun, tak seorang pun diizinkan untuk memasuki area sekte Api Langit.

Sedangkan para murid sekte yang baru kembali dari misi, segera membantu menjaga gerbang untuk memastikan tidak ada orang luar yang berusaha masuk.

Seorang pria tua berjubah abu-abu melangkah maju. Wajahnya penuh kerutan, matanya berkabut oleh kesedihan. "Tolong… izinkan aku masuk. Aku adalah murid generasi lama yang pernah berlatih di sekte ini. Aku hanya ingin memberi penghormatan terakhir!"

Seorang murid penjaga, seorang pemuda dengan mata merah kelelahan, membungkuk hormat sebelum menjawab, "Maaf, Senior. Saat ini, Sekte Api Langit tidak menerima tamu. Kami tidak bisa membiarkan siapa pun masuk tanpa izin para tetua."

"Tapi aku hanya ingin berdoa! Aku bersumpah tidak akan menimbulkan masalah!" seru pria tua itu, suaranya penuh permohonan.

Seorang pedagang kaya berbaju mewah ikut maju. "Aku sudah lama berdagang dengan Sekte Api Langit dan sering memasok bahan obat-obatan langka untuk sekte ini! Setidaknya biarkan aku masuk untuk bertemu dengan seorang tetua. Aku ingin memastikan keadaan mereka!"

Murid penjaga lainnya, seorang wanita dengan rambut diikat ketat, berbicara dengan nada tegas, "Kami menghargai niat baik Anda, tetapi keadaan sekte saat ini tidak memungkinkan. Bahkan kami para murid harus mendapatkan izin untuk masuk lebih dalam. Mohon pengertiannya."

Seorang pria muda dengan mata penuh amarah menatap para penjaga dengan tajam. "Kalian pikir bisa mengusir kami begitu saja? Kami bukan musuh! Sekte ini tidak hanya milik kalian yang ada di dalam! Ketua Sekte ini sudah seperti saudaraku! Apa aku tidak boleh melihat tempat peristirahatan terakhirnya?!"

Murid-murid penjaga saling berpandangan dengan raut wajah berat.

Sebelum mereka sempat menjawab, seorang pria paruh baya dengan jubah putih dan pedang panjang di punggungnya melangkah maju. Ia memancarkan aura tenang, tetapi suaranya mengandung wibawa yang tak terbantahkan. "Kami memahami perasaan kalian. Namun, kalian harus sadar bahwa sekte ini baru saja mengalami pukulan besar. Para tetua sedang berusaha memulihkan keadaan, dan keamanan sekte adalah yang utama. Jika kalian benar-benar peduli, maka tunjukkan dengan cara yang benar—dengan menunggu dengan sabar dan tidak mempersulit kami bahkan membantu kami untuk menghalangi orang luar masuk agar tidak membuat masalah di dalam sekte. "

Kerumunan itu mulai bergumam di antara mereka, beberapa tampak kesal, tetapi banyak yang akhirnya menghela napas dan mengangguk mengerti.

Murid penjaga mengangguk hormat kepada pria berjubah putih itu sebelum kembali memperketat penjagaan. Sementara itu, di kejauhan, Lynx dan Lala mengamati dari bayangan, menyerap setiap percakapan dan situasi yang terjadi di depan mereka.

Saat Lynx dan Lala melangkah mendekati gerbang, seorang murid dengan ekspresi keras segera menghadang mereka. Matanya tajam, penuh kewaspadaan, sementara tangannya tetap siaga di gagang pedang di pinggangnya.

"Maaf, kami tidak mengizinkan orang luar masuk," katanya tegas. "Kalian lihat! Semua orang yang ada disini memiliki tujuan yang sama agar dapat masuk kedalam Sekte, namun Sekte kami sedang berduka, dan kami tidak ingin ada penyusup atau gangguan yang dapat memperkeruh keadaan."

Lala mengernyit, lalu melangkah maju dengan kedua tangan berkacak pinggang. "Hei! Kami bukan orang sembarangan! Kami datang bukan untuk menimbulkan masalah! Kami ingin membantu kalian."

Murid itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur. Matanya tetap dingin, suaranya tak tergoyahkan. "Aturan tetap aturan. Silahkan pergi!"

Lala mengepalkan tangan, ekspresinya semakin geram. "Dasar keras kepala! Kalian bahkan tidak tahu siapa yang sedang kalian hadapi!"

Namun sebelum emosinya meledak lebih jauh, sebuah tangan menepuk bahunya dengan lembut. Lynx, yang sejak tadi diam, memberi isyarat agar dia tenang.

"Lala, ini bukan waktunya untuk bertengkar," katanya pelan, tetapi nadanya mengandung ketegasan.

Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke murid di depannya, matanya berkilat penuh keyakinan. "Kami tidak datang tanpa alasan. Aku diutus oleh Li Wei. Dia memintaku mencari tanaman obat untuk kakak seperguruan kalian Ling Mei, dan aku telah membawanya. Jika kalian ragu, sampaikan saja padanya bahwa Xiao Ling yang membawanya."

